Tafsiran ayat tentang ilmu komunikasi

Surat Al-Ahzab ayat 70 berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Dan ucapkanlah perkataan yang benar"

Artian perkata

يا أَيُّهَا   = wahai 

الَّذِينَ آمَنُوا  = orang-orang yang         beriman 

اتَّقُوا. = Bertakwalah 

اللَّهَ =  Kepala Allah 

وَ   = Dan

قُولُوا. =ucapkanlah 

قَوْلًا.  =Perkataan 

سَدِيدًا. = Yang benar 

-Tafsiran ayat-

• Tafsir Ibnu Katsir •

menjelaskan bahwa perintah untuk berkata dengan "qawlan sadīdan" berarti bahwa seorang mukmin harus mengucapkan perkataan yang lurus, jujur, tidak mengandung kebohongan, dan tidak menyimpang dari kebenaran. Perkataan yang lurus ini tidak hanya berkaitan dengan kejujuran dalam menyampaikan fakta, tetapi juga mencakup ucapan yang bermanfaat, adil, tidak menyakiti, dan tidak membawa keburukan bagi orang lain. Dengan menjaga lisan seperti ini, seseorang telah menunaikan bagian penting dari ketakwaannya.


• Tafsir As-Sa'di •

Menurut As-Sa’di, qawlan sadīdan mencakup semua bentuk ucapan yang baik dan benar: ucapan yang jujur, penuh keadilan, dan tidak menyimpang dari kebenaran. Ucapan ini tidak hanya terbatas pada menyampaikan informasi yang benar, tetapi juga menyangkut bagaimana seseorang berbicara dengan adab, sopan santun, dan niat yang baik. Dengan kata lain, seseorang yang berkata lurus adalah orang yang menyampaikan kebenaran dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat, dan untuk tujuan yang baik.


• Tafsir Al-Muyassar •

Ayat ini memerintahkan kaum mukminin untuk bertakwa dan menjaga lisan, agar selalu berkata jujur dan tidak menyimpang dari kebenaran dalam semua situasi.


~Penerapan dalam kehidupan~

Di era media sosial, ayat ini menjadi pelita. Ia tidak asal membagikan informasi viral, tidak ikut menghina orang dengan komentar tajam, tidak berlomba menonjolkan diri dengan kata-kata palsu. Ia sadar, ketikan di layar adalah bagian dari lisannya yang akan disaksikan oleh Allah. Maka, setiap kalimat ditimbang bukan dengan ego, tapi dengan takwa.


Kesimpulan:

Konsep komunikasi yang baik dalam Islam menekankan pada akurasi pesan, integritas komunikator, dan tanggung jawab sosial dari setiap ucapan. Ini sejalan dengan teori komunikasi etis yang menekankan bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga soal menjaga kebenaran, niat, dan dampak dari komunikasi itu sendiri.

Maka, ayat ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa Islam telah menanamkan dasar-dasar komunikasi yang sehat jauh sebelum teori komunikasi modern dikembangkan. Takwa dalam konteks komunikasi artinya menyampaikan kebenaran dengan niat yang bersih, dengan cara yang tidak menyakiti, serta dalam konteks yang bermanfaat. Oleh karena itu, Surah Al-Ahzab ayat 70 dapat dianggap sebagai fondasi spiritual dan etis bagi siapa pun yang ingin menjadi komunikator yang baik—baik dalam ranah interpersonal, sosial, maupun profesional.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunikasi Sebagai Proses Dalam Praktik Kehidupan Sosial

Ruang LIngkup Dan Komunikasi Dalam Membangun Bangsa