InthenameofAllah
Melalui mata kuliah Ilmu Komunikasi, saya mulai memahami bahwa komunikasi tidak sesederhana menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak lainnya. Komunikasi adalah sebuah proses yang dinamis, sistematik, dan simbolik, yang memiliki peran besar dalam kehidupan saya, baik dalam lingkungan pribadi, sosial, maupun akademik. Dalam perjalanan hidup saya sebagai mahasiswa, dan bagian dari masyarakat digital, saya semakin memahami bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak lain. Komunikasi adalah proses yang hidup, dinamis, dan terus berkembang mengikuti perubahan situasi, teknologi, dan hubungan sosial. Pengalaman-pengalaman saya dalam lingkungan kampus, media sosial, dan interaksi di masyarakat telah mengajarkan bahwa komunikasi lebih dari sekadar kata-kata ia adalah cerminan dari cara kita memahami, merespons, dan membentuk realitas bersama.
Saat pertama kali masuk kuliah dan belum terlalu kenal dengan teman-teman sekelas, saya cenderung lebih hati-hati dalam berbicara. Saya memilih kata-kata yang sopan, tidak terlalu ekspresif, dan cenderung diam saat diskusi berlangsung. Namun seiring jalannya waktu, hubungan kami mulai lebih akrab. Cara kami berkomunikasi berubah. Kami mulai berbicara dengan lebih santai, terbuka, dan tidak jarang diselingi candaan. Perubahan ini terjadi karena hubungan dan situasi yang ikut berubah. Hal serupa juga saya temukan dalam komunikasi digital. Misalnya, saat berdiskusi di grup WhatsApp kelas, gaya komunikasi bisa sangat formal ketika membahas tugas, tapi berubah total saat membahas hal-hal lucu dari kehidupan kampus. Saya belajar bahwa media komunikasi juga memengaruhi bagaimana saya menyampaikan pesan. Di Instagram, saya cenderung menampilkan sisi ceria dan santai, sementara di email kepada dosen, saya sangat memperhatikan struktur bahasa dan kesopanan.
Selain dinamis, Komunikasi juga merupakan sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang saling berkaitan, seperti pengirim pesan, penerima, saluran, konteks, umpan balik, dan gangguan (noise). Jika salah satu unsur terganggu, maka proses komunikasi menjadi tidak efektif. Selain bersifat berubah-ubah, komunikasi juga merupakan suatu sistem yang saling terhubung. Waktu saya di pondok, kelancaran kegiatan harian seperti belajar malam, piket kebersihan, hingga acara keagamaan, sangat bergantung pada koordinasi yang baik antar bagian. Saat menjadi pengurus, saya pernah bertanggung jawab atas kegiatan bulanan, dan pernah mengalami miskomunikasi dengan bagian konsumsi. Akibatnya, makanan untuk para santri datang terlambat dan kegiatan pun terganggu. Dari Pengalaman itu saya belajar bahwa satu kekeliruan kecil dalam komunikasi bisa memengaruhi jalannya seluruh kegiatan. Saya pun paham bahwa keterbukaan, kejelasan pesan, dan kerjasama antar bagian sangat penting dalam sistem komunikasi.
Simbol, baik yang berupa kata-kata maupun gerakan tubuh, adalah bagian penting dalam komunikasi saya. Pilihan kata, ekspresi wajah, nada bicara, bahkan emoji yang saya kirim di media sosial, semuanya punya makna tersendiri. Contohnya, saat presentasi di depan kelas, saya berusaha tersenyum, menjaga kontak mata, dan berbicara dengan intonasi yang jelas, supaya pesan saya bisa dipahami dan diterima dengan baik oleh teman-teman dan dosen. Pengalaman lain saya alami saat diskusi kelompok. Seorang teman berkata, “Saya setuju, tapi…” dengan suara datar dan tangan bersilang. Walau ucapannya terdengar setuju, gerak tubuhnya menunjukkan hal sebaliknya. Dari situ saya belajar bahwa memahami komunikasi seseorang tidak cukup hanya dengan mendengar kata-katanya, tapi juga perlu memperhatikan bahasa tubuhnya.
Dari semua pengalaman saya di kampus maupun di pondok, saya dapat menyimpilkan bahwa komunikasi itu bukan hanya soal berbicara atau kirim pesan, melainkan proses yang terus berubah dan saling terhubung. Jika salah satu bagian dari proses berjalan tidak baik, komunikasi bisa menjadi tidak efektif. Saya juga sadar bahwa simbol-simbol seperti nada bicara, ekspresi wajah, atau bahkan emoji itu punya peran penting dalam membentuk makna. Dengan memahami hal-hal itu, saya jadi lebih peka dalam berkomunikasi belajar untuk lebih jelas saat menyampaikan pesan, terbuka dalam berdiskusi, dan memperhatikan bahasa tubuh orang lain. Semua itu membantu saya membangun hubungan yang lebih baik, baik di lingkungan belajar, organisasi, maupun kehidupan sehari-hari.
Profil Penulis:
Saya Zakia Ramadhani lahir di Dumai, 19 Oktober 2005 saaat ini sedang menempuh pendidikan di Iaitf Dumai dengan program studi hukum keluarga islam. Saya adalah seseorang yang memiliki semangat tinggi dalam belajar dan berkembang, agar dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat. Saya percaya bahwa dengan usaha dan dedikasi, setiap orang dapat mencapai impian mereka, untuk itu saya terus menggali potensi diri, mengahadapi tantangan dengan sikap positif, serta memberikan dampak yang bermanfaat bagi yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar